Rasionalisasi CBSA dalam Pembelajaran


Kita telah memasuki ambang “masyarakat belajar” yaitu masyarakat yang menghendaki pendidikan masa seumur hidup (Husen.1988:41).Untuk mempersiapkan siswa menghadapi hal tersebut,kita perlu memikirkan jawaban atas pertanyaan : Cara-cara bagaimana siswa memperoleh dan meresapkan pengetahuan,ketrampilan,dan sikap yang menjadi kebutuhannya? Dengan kata lain,guru hendaknya tidak hanya menyibukkan dirinya dengan kegiatan pemaksimalan penyajian isi pelajaran saja.Yang lebih penting dari pada itu,guru hendaknya memikirkan cara siswa belajar.


Untuk menjawab permasalahan yang terkandung dalam pertanyaan di atas,perlu kiranya mengkaji konsep belajar terlebih dahulu. Sudah sejak lama manusia mencoba mengkaji konsep belajar. John Dewey misalnya (1916 dalam Davics,1987:31) menekankan bahwa:

Oleh karena belajar menyangkut apa yang harus dikerjakan murid-murid untuk dirinya sendiri,maka inisiatif harus datang dari murid-murid sendiri.Guru adalah pembimbing dan pengarah,yang mengemudikan perahu,tetapi tenaga untuk menggerakkan perahu tersebut haruslah berasal dari murid yang belajar.

Sedangkan Gage dan Berliner secara sederhana mengungkapkan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang membuat seseorang mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang diperolehnya ( Gage dan Berliner, 1984 : 252 )

Dari batasan belajar yang dikemukakan oleh dewey serta gage dan Berliner, kita dapat menanadai bahwa belajar belajar merupakan suatu proses yang melibatkan manusia secara orang perorang sebagai satu kesatuan organisasi sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Dengan demikian, dalam belajar orang tidak mungkin melimpahkan tugas – tugas belajarnya kepada orang lain. Orang yang belajar adalah orang yang mengalami sendiri proses belajar.

Walaupun telah lama kita menyadari bahwa balajar memerlukan keterlibatan secara aktif orang yang belajar, kenyataan masih menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Dalam proses pembelajaran masih nampak adanya kecenderungan meminimalkan peran dan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa lebih banyak berperan dan terlibat secara pasif, mereka lebih banyak menunggu sajian dari guru daripada mencarai dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan, juga sikap yang mereka butuhkan. Apalagi kondisi proses pembelajaran yang memksimalkan peran dan keterlibatan guru serta meminimalkan peran dan keterlibatan siswa terjadi pada pendidikan dasar, termasuk pada sekolah daasr mengakibatkan sulit tercapainya tujuan pendidikan dasar yakni meletakkan dasar yang dapat dipakai sebagai batu loncatan untuk menggapai pendidikan yang lebih tinggi, disampinh kemauan dan kemampuan untuk belajar secara terus menerus sapanjang hayatnya.

Bertolak dari pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam konsepsi pendidikan seumur hidup dan konsepsi belajar serta kenyataan proses pembelajaran, maka peningkatan penerapan CBSA merupakan kebutuhan yang harus segera terpenuhi. Gur hendaknya tidak lagi mengajar sekedar sebagai kegiatan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada siswa. Guru hendaknya mengajar untuk membelajarkan siswa dalam konteks belajar bagaimana belajar mencari, menemukan dan meresap pengetahuan,keterampilan dan sikap.

Dengan penerapan CBSA,siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh, menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di sekitarnya, selain itu siswa lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara teratur, kritis, tanggap, dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari, serta lebih terampil dalam menggali, menjelajah, mencari dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya (Raja Joni, 1992:1 ). Pencapaian keadaan siswa yang diharapkan melalui penerapan CBSA ini akan memungkinkan pembentukan sebagai “pengabdi abadi pencari kebenaran ilmu”.

Di sisi yang lain, dengan penerapan CBSA, guru diharapkan bekerja secara professional,mengajar secara sitematis berdasarkan prinsip didaktik metodik yang berdaya guna beshasil guna ( efisien dan efektif ). Artinya guru dapat merekayasa system pembelajaran yang mereka laksanakan secara sistematis, dengan pemikiran mengapa dan bagaiamana menyelenggarakan kegiatan pembelajaran aktif ( Raka Joni 1992:11 ). Lambat laun penrapan CBSA pada gilirannya akan mencetak guru – guru yang potensial dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan alam dan sosial budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: